"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina sekalipun. Tuntutlah ilmu sejak dalam kandungan sampai liang lahat. Mempelajari sepatah kata ilmu, lebih baik daripada mengerjakan sholat 100 rokaat. Tinta ulama lebih berharga daripada darah orang-orang syahid. Sepatah hikmah yang diajarkan dan diberitahukan kepada sesama saudara muslim, lebih berharga daripada sholat selama setahun. Orang-orang yang berilmu adalah pewaris nabi-nabi.
Di dalan Al-qur'an pun dikatakan:
"...Allah meninggikan orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat..." (QS A-Mujadillah 58:11)
Allah tidak menjadikan sesuatu yang lebih utama daripada akal. Pada hakekatnya, seseorang dapat mengerjakan sholat, puasa, zakat, hajji dan semua amal yang baik, tetapi pahala yang akan dia terima hanya seimbang dengan akal yang digunakan. Maka, janganlah kita dan anak-anak kita termasuk golongan orang-orang yang bodoh, karena Allah tidak menyukai orang yang bodoh. (QS 7:199)
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak akan pernah berhenti, Belajar sebaiknya dilakukan oleh setiap manusia tanpa dibatasi usia, dan latar belakang pendidikan seseorang. Seseorang berlatar belakang pendidikan manajemen, tidak dilarang untuk mempelajari ilmu selain manajemen. Seseorang berlatar belakang pertanian, tidak dilarang untuk mempelajari ilmu selain pertanian. Matematika misalnya, sangat memungkinkan dipelajari lebih mendalam oleh seorang sarjana pertanian atau sarjana bidang agama. Mengapa? Karena di segala bidang kehidupan, matematika selalu hadir. Untuk itu, jika kita dan anak-anak kita ingin mempelajari sesuatu, sebaiknya berpedoman kepada imajinasi, bukan hanya pengetahuan. Albert Enistein mengatakan," Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan".
Mari kita simak ayat berikut:
"... Katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya, orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS Az-Zumar 39:9)
Tidak membaca itu sama dengan tidak tahu, Tidak tahu itu dekat kebodohan. Dan kebodohan itu dekat dengan kemiskinan. Pesan ini sangat jelas bagi kita, bahwa belajar harus selalu dilakukan agar jauh dari kebodohan dan kemiskinan.
Allah tidak menyukai kebodohan dan tidak menykai orang-orang yang bodoh. Allah menyukai orang-orang yang berilmu. Maka dari itu, ajaklah anak-anak kita untuk belajar, belajar dan belajar seumur hidup kita. Belajar tidak harus instan dan dengan "bin salabim" langsung pandai. tetapi belajar memerlukan proses dari waktu ke waktu, tanpa meninggalkan makna hidup dan kehidupan anak-anak kita. Al-Qur'an telah menjelaskan:
"... sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan) ( QS: Al-Insyiqqaaq [84]: 19).